Gus Muwafiq – Dalam beberapa waktu belakang ini, menjadi tren di media sosial terkait bendera Laa Ilaha illallah – bendera yang dikenalkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) – sebagai Al Liwa dan Ar Royah. Mengingat kembali, sesuai dengan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan maka HTI menjadi organisasi yang dilarang karena terbukti berkeinginan mengubah negara Pancasila menjadi Khilafah. Dengan demikian, maka otomatis wajar terjadi penolakan penggunaan atribut bendera Laa Ilaha illallah.

Simpang siur yang terjadi di masyarakat yaitu memperbandingan antara bendera Laa Ilaha illallah dengan bendera Palu Arit sebagai atribut dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Selepas tahun 1965, PKI menjadi partai yang juga dilarang aktivitasnya di Indonesia. Bahkan lebih parahnya diarahkan opini terhadap PKI yang hidup kembali di era milenial ini. Simpang siur lainnya yaitu penolakan terhadap bendera yang bertuliskan Laa Ilaha illallah diartikan menolak secara mentah-mentah Laa Ilaha illallah. Muncul beberapa gambar yang mendiskreditkan kalimat tauhid itu sendiri seperti tulisan di keranda, tugu selamat datang, ataupun stiker dengan mengaitkan kepada penolakan sejumlah ormas Islam. Penggiringan media ini pun kian santer dengan cepatnya media sosial menanggapi keadaan.

Menurut Gus Muwafiq dalam sebuah video, “Bendera Palu Arit PKI kita tolak, tapi kalau Palu tetap kita pakai untuk nukang, Arit kita pakai untuk ke sawah. Jadi penolakan Palu Arit tidak berarti kemudian menolak Palu Arit sebagai sebuah alat kerja.”

Penolakan itu tidak serta merta ditelan mentah-mentah. Bendera Palu Arit sebagai atribut bendera PKI menjadi kewajiban bagi warga negara untuk menolaknya. Tetapi menolak Palu Arit ini tidak lantas juga menolak segala hal tentang palu ataupun arit. Bagi para pengrajin kayu, Palu ini menjadi alat untuk bekerja. Arit sama halnya begitu, menjadi alat pokok untuk mereka yang ke sawah. Sehingga tidak salah memahami menolak Palu Arit antara atribut bendera dengan alat kerja. Pemahaman ini juga sama dalam menyikapi generalisasi bendera berlambang tauhid yang digunakan oleh HTI sebagai identitas.

Menolak bendera HTI bukan berarti alergi sama sekali dengan kalimat tauhid.

Sangat jelas bahwa setiap kali acara tahlilan, kenduri ataupun selamatan lafal tahlil (Laa Ilaha illallah) merupakan bacaan wajib. Bahkan sejak tahlilan ini dijadikan komoditi untuk disesatkan, para santri masih terus menjaga keluhuran dari kalimat tauhid. Oleh karena itu, pemutarbalikan logika seperti ini justru menyesatkan. Menolak atribut tidak lantas menolak hal yang general serta merta. Pemahaman atribut sangatlah jelas karena digunakan sebagai identitas organisasi ataupun kelompok. Jika organisasi/kelompok tersebut telah dilarang oleh peraturan perundang-undangan maka salah satu langkahnya menolak atribut yang menjadi identitas kelompok tersebut.

Penulis : Mazdan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here